E-PASS Gelar Lokakarya Rencana Kelola Bersama Berbasis Tapak

E-PASS Gelar Lokakarya Rencana Kelola Bersama Berbasis Tapak

by September 6, 2016

Bone Bolango, InfoPublik – Solusi jangka panjang untuk melestarikan keanekaragaman hayati pulau Sulawesi adalah dengan perbaikan sistem pengelolaan kawasan konservasi yang terpadu secara baik.

Selain itu, harus didukung dengan kapasitas dan sumber daya pendanaan yang berkelanjutan agar dapat menyelamatkan keanekaragaman hayati tersebut dari berbagai ancaman.

Demikian pernyataan tersebut  disampaikan Kepala Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (BTNBNW), Ir. Noel Layuk Allo, MM dalam  kegiatan lokakarya membangun rencana kelola bersama berbasis tapak di kawasan penyangga TNBNW di Gorontalo, Selasa (6/9).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Balai TNBNW lewat proyek E-PASS Bogani selama dua hari dari tanggal 06-07 September 2016 itu berlangsung di Hotel Maqna Gorontalo.

Kepala Balai TNBNW, Noel Layuk Allo, menjelaskan perlindungan dan pengelolaan kawasan konservasi yang ada saat ini dianggap belum cukup memadai untuk menerapkan solusi tersebut. Oleh karena itu, pemerintah memandang perlu untuk mengupayakan adanya dukungan lain, seperti pendanaan dari proyek hibah GEF.

Untuk itu, lanjut Noel Layuk Allo dalam rangka pelaksanaan proyek hibah GEF yang berjudul Enhancing Protected Area System in Sulawesi (E-PASS) for Biodiversity Conservation di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Warabone (TNBNW).

Balai TNBNW lewat proyek E-PASS Bogani menyelenggarakan kegiatan lokakarya membangun rencana kelola bersama berbasis tapak di kawasan penyangga TNBNW di Gorontalo.

Ia menambahkan pada lokakarya kali ini, pihaknya ingin benar-benar melakukan kegiatan di tingkat tapak yaitu di desa-desa penyangga. Untuk itu, diharapkan pelaksanaan lokakarya ini, selain ada output-nya, juga harus ada outcome-nya.

“Jangan sampai kegiatan yang kita lakukan hanya berorientasi pada laporan. Setelah laporan selesai, kemudian tidak ada lagi kegiatan selanjutnya. Padahal kita menginginkan kegiatan ini betul-betul dan harus bermafaat bagi masyarakat, khususnya masyarakat yang ada di dalam dan sekitar taman nasional,”ujarnya.

Hal senada juga diutarakan Kepala Unit Pelaksana Teknis BPKH wikayah XV Gorontalo, Herban Heriandana, ia berharap pelaksanaan lokakarya tersebut dapat memberikan hasil yang bermanfaat bagi pengelollan kawasan hutan, khususnya di area penyangga TNBNW di wilayah Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.”Selaku coordinator wilayah UPT BPKH Provinsi Gorontalo, kami tentu sangat mengapresiasi kegiatan lokakarya ini,”tukasnya.

Sementara itu, Field Coordinator E-PASS, Elisabet Purastuti, mengatakan, tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan lokakarya ini antara lain, membuat rencana kerja berbasis tapak dalam pengelolaan bersama kawasan penyangga TNBNW, merancang strategis kebijakan pengelolaan bersama kawasan penyangga TNBNW dan membentuk kelompok kerja terkait pengelolaan bersama kawasan penyangga di TNBNW.

Di sisi lain, Elisabet menjelaskan bahwa program EPASS merupakan proyek peningkatan sistem kawasan konservasi di Sulawesi. Proyek ini diinisiasi oleh pemerintah bersama UNDP pada tahun 2010 guna untuk mendukung pembangunan konservasi di Sulawesi.

Ia menambahkan, kawasan tersebut dipilih lantaran memiliki nilai keanekaragaman hayati yang tinggi dan sangat signifikan dari sudut pandang internasional, akan tetapi para pelaku/mitra kerja konservasi yang ada di daerah ini dirasakan masih sangat terbatas.

Sementara ancaman terhadap sumberdaya hayati yang ada relatif sangat besar, sehingga perlu mendapatkan prioritas dalam upaya penyelamatannya.(MC.Bone Bolango/Hms/Kadir/Eyv)