(Bahasa Indonesia) Trio Srikandi Penakluk Api

(Bahasa Indonesia) Trio Srikandi Penakluk Api

by May 20, 2019

Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Matahari tengah bersinar gagah di atas langit di pertengahan Mei 2019, saat 5 anggota Lembaga Konservasi Kelurahan (LKK) Kasawari, Batuangus, Bitung, Sulawesi Utara membuat sekat bakar di lahan yang berbatasan dengan TWA Batuangus.  Diantara para pekerja tersebut terselip tiga orang perempuan yang dengan gigih membuat sekat bakar di tengah sengatan matahari yang terasa bagai membakar kulit.

Berbekal sebilah penggaruk serta topi dan baju lengan panjang guna menghalau panas, mereka tekun membuat sekat bakar dengan lebar 4 m. Bukan tanpa musabab mereka bergegas membuat sekat bakar meski terik matahari menyengat kulit. Menurut Tin Theresia Tatanode, salah seorang perempuan pekerja, lokasi pembuatan yang banyak ditumbuhi ilalang rentan terjadi kebakaran terutama saat musim kemarau tiba.

 

IMG-20190515-WA0002Tin menuturkan berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, kebakaran lahan kerap terjadi saat musim kering. “Pemicunya selain keteloderan manusia, juga dipicu faktor alam,” ungkapnya. Jika lahan terbakar, selain mengancam perkebunan warga, api pun bisa menjalar mengancam hutan di kawasan TWA Batuangus yang menjadi salah satu habitat monyet yaki.

Rencananya setelah sekat bakar selesai dibuat, akan ditanami tanaman keras. Tanaman ini nantinya diharapkan bisa menjadi “pagar hidup” jika nantinya terjadi kebakaran lahan yang selama ini banyak ditumbuhi ilalang.

Terlibatnya Tin dan rekan perempuannya dalam kegiatan pelestarian lingkungan berawal dari keprihatinan mereka terhadap terancamnya lingkungan mereka yang diakibatkan kebakaran lahan. Selain mengancam pemukiman, kebakaran pun rentan menghanguskan kebun kelapa yang menjadi salah satu mata pencaharian mereka. Pun, kebakaran mengancam hutan yang selama ini menjadi salah satu habitat satwa endemik Sulawesi yakni monyet yaki.

IMG-20190515-WA0000

LLK Kasawari merupakan salah satu penerima program dana hibah skala kecil Proyek Enhancing the Protected Area System in Sulawesi for Biodiversity Conservation(EPASS). Proyek EPASS berada di bawah nauangan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bertujuan menurunkan ancaman dan meningkatkan tata kelola kerjasama di daerah penyangga dan kawasan konservasi dalam upaya perlindungan keanekaragaman hayati di Sulawesi. Kesadaran akan pentingnya menjadi lingkungan itu yang menjadi pemicu semangat bagi trio srikandi perempuan itu rela berpeluh keringat membuat sekat bakar meski ditempa sengat matahari. (fx)