Kejahatan TSL Merupakan Kejahatan Sangat Luar Biasa

Kejahatan TSL Merupakan Kejahatan Sangat Luar Biasa

by April 30, 2018

Jakarta EPASS/30/4/2018 – Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat keanekaragaman hayati. Berbagai upaya penanggulangan sudah banyak dilakukan baik oleh pemerintah maupun pihak – pihak terkait lainnya. Meski demikian, penegakan hukum terhadap kejahatan tumbuhan dan satwa liar mutlak dilakukan dan harus secara terus – menerus digaungkan agar para pelaku kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa liar (TSL) bisa diberantas.

Di Indonesia kejahatan TSL tercatat menduduki peringkat ketiga setelah kejahatan narkoba, untuk itu dibutuhkan upaya lebih dan perlu sinergitas untuk memberantasnya .Guna memberikan efek jera kepada para pelaku kejahatan TSL maka penegakkan hukum harus dilakukan melalui multidoor” ujar Direktur Jenderal Gakkum KLHK Rasio Ridho Sani.

“Kami menyebutnya (TSL) kejahatan sangat luar biasa” katanya menambahkan.

Pentingnya keberadaan keanekaragaman hayati untuk keseimbangan alam perlu mendapat perhatian serius. Untuk itu, KLHK telah berinisiatif menggelar acara bertajuk “Berantas Kejahatan Tumbuhan dan Satwa liar” yang bertempat di di gedung Manggala Wanabakti, Jakarta  pada Senin, 30 April 2018.

Sani dalam pidato sambutannya melanjutkan bahwa “Hari ini merupakan kesempatan yang sangat penting karena kami merasa tidak sendirian untuk menjaga titipan Tuhan dan saya harap kita lebih maju lagi dalam pemberantasan TSL kedepannya.” ujarnya

“13 ribu satwa dan 10 ribu bagian satwa yang berhasil disita akan dilakukan pemusnahan untuk barang bukti sebanyak 8 truk yang berasal dari berbagai daerah.” katanya

Menurutnya tumbuhan dan satwa liar memiliki nilai ekonomi dan pada prinsipnya bisa dimanfaatkan secara baik , KLHK mencatat nilainya mencapai Rp. 8.26 trilyun, namun kehati saat ini sedang terancam akibat fragmentasi habitat dan kebutuhan ruang untuk satwa.

“Kejahatan terhadap satwa masih terus terjadi di depan mata kita dan itu terlihat di sosial media dan media mainstream dan apabila ini tidak ditangani secara serius maka Indonesia akan jadi sorotan dunia internasional” katanya

Ia mengatakan bahwa tercatat ada sekitar 572 postingan terkait kejahatan TSL di jagat maya.

Perburuan dan perdagangan illegal satwa liar baik sindikat nasional maupun internasional sudah menjadikan Indonesia sebagai tempat atau basis kejahatan itu. Sementara itu, Indra Eksploitasia Direktur pencegahan dan perlindungan Hutan KLHK mengatakan bahwa kegiatan pemusnahan barang hasil rampasan merupakan langkah penting sebagai upaya memberantas kejahatan TSL.

“Ada 14 lembar kulit harimau dan macan tutul dan barang bukti ini akan dimusnahkan dengan teknologi termal agar ramah lingkungan” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa aplikasi SPARTAN (sistem pemantauan kerawanan hutan terpadu) juga diluncurkan dalam gelaran acara tersebut yang memiliki fungsi untuk memonitor kondisi kawasan hutan secara langsung (realtime).