Latar Belakang

Latar Belakang

Pulau Sulawesi (17,46 juta ha) adalah pulau terbesar ke-11 di dunia. Puncak tertingginya mencapai 3.478 meter. Pulau ini juga merupakan pulau ke-4 terbesar dan ke-3 terpadat di Indonesia, dengan populasi sekitar 17 juta jiwa.

Sulawesi merupakan bagian dari Wallacea, yang berarti memiliki perpaduan spesies Asia dan Australasia. Hasilnya adalah Sulawesi memiliki beragam biota terestrial yang signifikan secara global, begitu juga kehidupan pesisir dan laut yang kaya. Bentuk “k” yang unik memungkinkan pulau ini memiliki 6.000 km garis pantai yang menghidupi rumput laut dan gugusan koral. Habitat-habitat ini merupakan rumah bagi berbagai spesies kura-kura laut, dugong dan enam spesies kerang raksasa di dunia.

Sulawesi menjadi sorotan oleh berbagai penulis dan telah melalui berbagai kriteria evaluasi sebagai wilayah konservasi penting dunia. Seperti digarisbawahi oleh Cannon dkk, signifikansi global Sulawesi disebabkan oleh kombinasi beberapa factor, termasuk: (i) sejarah panjang sebagai pulau besar samudra; (ii) posisinya di lintas biogeografis antara Asia Timur dan Australasia, dan; (iii) geologinya yang rumit, termasuk bentuk mafic raksasa di dunia. Karakteristik inilah yang menghasilkan endemisme tingkat tinggi, terutama dalam hal fauna, dalam skala benua maupun lokal.

Sulawesi menguasai wilayah hutan tropis yang luas, berikut ragam ekosistem hutan yang menakjubkan. Pada tahun 2011, Keputusan Menteri Kehutanan mengklasifikasikan wilayah hutan seluas 11,58 juta ha. Menurut laporan tahun 2012, ekosistem hutan di Sulawesi dapat dibagi menajdi dua ekoregion besar: (i) hutan hujan daratan rendah dan (ii) hutan hujan dataran tinggi. Analisa yang lebih mendetail kemudian membagi hutan di pulau tersebut menjadi 18 ekosistem yang berbeda-beda.

Tipe hutan yang beragam tersebut menjadi penyebab utama tingkat endemis dan keanekaragaman hayati berbasis spesies yang tinggi di Sulawesi; sebagai contoh, setidkanya ada 5.076 spesies tumbuhan vascular yang tumbuh di pulau tersebut. Persentasi spesies Sulawesi yang endemis sangatlah tinggi; sebagai contoh, dari 127 spesies mamalia yang diketahui di pulau tersebut, 72 spesies adalah endemis (62%). Mamalia tersebut termasuk dua spesies sapi liar, anoa dataran rendah dan tinggi (Bubalus depressicomis, Bubalus quarlessi), babirusa (Babyrusa babyrousa), musang sawit Sulawesi (Macrogalidia musschenbroeckii), dan monyet jambul hitam (Macaca tonkeana). Jika tanpa menghitung kalelawar, tingkat endemisme spesies mencapai 98%. Lebih lagi, 34% dari hampir 1.500 spesies burung yang tercatat di pulau tersebut adalah endemis. Mengingat keanekaragaman hayati pulau tersebut yang sudah dipelajari masih sangat sedikit, kemungkinan besar masih banyak jenis spesies yang belum ditemukan di sana.

Terlepas dari sistem pengelompokan secara luas maupun khusus, ekosistem hutan di seluruh pulau ini mengalami penurunan secara drastis. Secara ekoregion sekitar 59,2% hutan hujan dataran rendah di Sulawesi mengalami degradasi parah akibat kegiatan-kegiatan pembangunan yang intensif dan ancaman yang ditimbulkan manusia. Untuk ekoregion hutan hujan dataran tinggi, persentasi ekosistem yang terganggu mencapai 28,2%.

Demi melestarikan keanekaragaman hayati di Sulawesi dari ancaman-ancaman tersebut, sejak tahun 1982 pemerintah Indonesia telah menetapkan jaringan 63 kawasan konservasi darat dan enam kawasan konservasi laut. Kawasan konservasi tersebut meliputi total wilayah seluas 1.601.109 ha – sekitar 9,2% dari luas pulau Sulawesi atau 14,2%  dari total luas wilayah hutan.

Upaya ini dinilai masih jauh dari mencukupi, karena kawasan konservasi yang ada ternyata hanya merepresentasikan sekitar 10% dari berbagai tipe ekosistem penting yang ada di Sulawesi. Belum lagi perlindungan dan pengelolaan kawasan konservasi yang ada tidak cukup untuk mencegah pelanggaran dan kerusakan di perbatasan kawasan. Sementara itu kawasan alam di luar batas kawasan konservasi mengalami kerusakan lebih parah akibat penebangan, pengalihan fungsi tanah, penambangan, kebakaran, dan perburuan. Proses tersebut menambah juga kerusakan kawasan konservasi akibat terisolasi dan kehilangan koneksi dengan kawasan natural di sekitarnya. Populasi pedesaan berkembang pesat. Tingkat kemiskinan yang tinggi menyebabkan timbulnya pemanfaatan besar terhadap sumber kayu dan produk-produk hutan lainnya serta penggunaan lahan untuk pertanian – awalnya untuk menanam kelapa yang kemudian berkembang untuk cengkeh, kopi dan coklat. Pembangunan seperti itu mengakibatkan terpecah-pecah dan rusaknya kawasan natural dan terisolasinya kawasan konservasi dalam lingkungan. Hanya kawasan konservasi dengan perwakilan ekosistem yang layak dan beberapa cagar alam kecil yang penting yang akan dapat bertahan dengan perlindungan kuat dan pengelolaan spesifik yang berfokus pada spesies target dan keterhubungan lingkungan.

Keberlanjutan sistem kawasan konservasi tidak hanya bergantung pada efektifitas pengelolaannya, namun juga pada pengelolaan kawasan sekitarnya, termasuk kawasan penyangga. Solusi jangka panjang untuk pelestarian keanekaragaman hayati di Sulawesi adalah dengan sistem kawasan konservasi yang terintegrasi dengan lingkungan sekitarnya, dengan kapasitas dan sumber pendanaan untuk menjaga keanekaragaman hayati agar tetap bertahan dari ancaman-ancaman di masa mendatang. Aktifitas mendasar, meskipun signifikan, namun tidak mencukupi untuk mencapai solusi di atas.

Sementara itu, kapasitas teknis dan pendanaan pemerintah dalam melindungi kawasan konservasi yang telah ada juga masih sangat terbatas. Sehingga diperlukan dukungan dari semua pihak guna memperkuat efektifitas pengelolaan dan keberlanjutan pendanaan sistem kawasan konservasi di Sulawesi dalam merespon berbagai tekanan yang ada saat ini maupun yang akan datang. Salah satu dukungan yang diupayakan adalah melalui pelaksanaan proyek bantuan luar negeri.