Lokasi Proyek

Lokasi Proyek

Komponen 1 dan 2 memiliki relevansi umum untuk sistem kawasan konservasi di Sulawesi secara keseluruhan. Sementara Komponen 3 akan berfokus secara khusus pada tiga lokasi demonstrasi proyek, dimana akan ditunjukkan dan diperbanyak pendekatan-pendekatan untuk menghilangkan ancaman dan membangun tata kelola kerjasama.

Kawasan konservasi tersebut terpilih menjadi lokasi demonstrasi proyek berdasarkan kriteria berikut: (i) memiliki keanekaragaman hayati yang penting/signifikan secara global; (ii) inisiatif dukungan dari kawasan konservasi sendiri; (iii) adanya peluang untuk diversifikasi finansial, termasuk penerapan REDD+ dan pendekatan lainnya, dan (iv) berpotensi dalam pengembangan percontohan unik untuk pengelolaan bersama dan integrasi sistem kawasan konservasi di dalam perencanaan pembangunan fiskal di tingkat lokal maupun provinsi, dengan meningkatkan pengaturan tata kelola bersama yang sudah ada.

Lokasi demonstrasi proyek E-PASS adalah:

TAMAN NASIONAL LORE LINDU (217,992 ha):

Kawasan ini merupakan taman nasional terestrial terbesar ke-2 di Sulawesi dan memiliki beragam biota unik dan spesies langka Sulawesi, termasuk 77 spesies burung yang endemik di Sulawesi. Tercatat pula 40 spesies mamalia dimana 31 spesies termasuk endemik. Spesies yang signifikan secara global di sini termasuk anoa dataran tinggi, babirusa, dua macam spesies Tarsius, Makaka Tonkean dan dua spesies Kuskus marsupial, rangkong (rhyticeros cassidix), dan rajawali Sulawesi (spizaetus lanceolatus). Taman nasional ini terdaftar di IUCN sebagai pusat Keanekaragaman Tumbuhan, oleh Birdlife International sebagai Kawasan Endemis Burung, dan oleh WWF sebagai ekoregion Global 200. Kawasan ini memiliki Important Bird Areas dan pada 1978 dinyatakan oleh UNESCO sebagai Cadangan Biosfer.

TAMAN NASIONAL BOGANI NANI WARTABONE (287,115 ha):

Kawasan ini merupakan taman nasional terestrial terbesar di Sulawesi dan menjadi rumah bagi 24 spesies mamalia, 135 spesies burung, 11 spesies reptil, 2 spesies amfibi, 38 spesies kupu-kupu, 200 spesies kumbang, dan 19 spesies ikan. Spesies yang endemik di sini adalah Kelelawar Bone (Bonea bidens). Elang Hantu Cinnabar (Ninoxios), yang hanya dideskripsikan secara ilmiah di tahun 1999 dari spesimen yang diambil dari taman nasional ini. Hampir seluruh spesies mamalia dan burung yang endemik di Sulawesi ada di taman nasional ini. Kawasan ini juga menjadi lokasi penting dimana burung Maleo bersarang.

KAWASAN CAGAR ALAM TANGKOKO (8,665 ha):

Kawasan ini terdiri dari beberapa kawasan konservasi lokal dan sekitarnya, termasuk cagar alam, hutan lindung, dan hutan wisata. Lingkungan ini menjadi signifikan karena mengakomodasi dalam jumlah besar beberapa spesies endemis utama di Sulawesi seperti anoa dataran rendah, burung maleo, tarsius, musang raksasa dan lainnya, termasuk tempat populasi satu-satunya dari monyet jambul hitam (macaca nigra).