Mamalia

Anoa

Ukuran populasi anoa tidak diketahui dengan pasti karena belum ada survey yang memperkirakan populasinya di seluruh pulau Sulawesi. Memperkirakan ukuran populasi anoa masih rumit mengingat ketidak-jelasan penyebaran anoa yang telah dikategorikan ke dalam dua jenis tersebut. Namun diperkirakan jumlahnya tidak lebih dari 2.500 individu dewasa, itu pun sebagian besar populasinya mengalami fragmentasi yang sangat cepat. Dan diperkirakan tidak ada sub-populasi yang lebih dari 250 individu dewasa (Burton et al. 2005).

Syam (1978) memperkirakan populasi anoa di CA Tangkoko Batuangus mencapai 38 – 62 ekor atau kepadatan populasi sebesar 1.3-2,0 per km2. O’Brien & Kinnaird (1996) memperkirakan populasi anoa di CA Tangkoko Batuangus pada tahun 1993/4 menurun sampai 0,07ekor per km2. Sementara itu, survey WCS di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, memperkirakan kepadatan populasi anoa berkisar antara 0.52 and 1.252 ekor per km2 (Lee et al. 2000)

Habitat alami anoa dapat ditemukan di area hutan Nantu, Gorontalo. Di Kecamatan Popayato, anoa yang masih dapat ditemukan di habitat aslinya diburu dengan menggunakan jerat. Anoa yang terjerat selain dikonsumsi oleh masyarakat lokal, juga dikirim ke Sulawesi Utara dengan menggunakan mobil pick up. Meskipun tujuan para pemburu yang mayoritas berasal dari Suku Minahasa adalah babi hutan, namun satwa apa saja yang terjerat, termasuk anoa, tetap diambil dagingnya untuk dijual.

Di wilayah pegunungan Luwu Utara, Sulawesi Selatan dapat dijumpai Suku Rampi yang berburu anoa dengan batasan adat. Anoa yang ditangkap akan diolah menjadi daging asap yang mampu bertahan sampai 3 bulan lamanya, cukup menjadi persediaan bagi keluarga mereka. Para pemburu anoa berasal dari Desa Onondowa (sekitar 550 kilometer  dari Makassar). Para pemburu sehari-harinya adalah peladang yang mencari tambahan penghasilan dengan berburu. Meskipun mereka mentargetkan anoa, namun jerat yang mereka pasang juga memerangkap babi hutan. Karena jumlah anoa yang semakin sedikit, para pemburu lebih memilih memasang jerat yang terbuat dari tali nylon sepanjang 2.5 meter. Jerat ini dikaitkan pada batang pohon kecil yang dilengkungkan, salah satu ujungnya dibuat simpul lasso yang ditaruh di atas susunan kayu, dan dibawahnya digali lubang. Ketika anoa menginjak jebakan, kayu akan melenting ke atas dan kaki anoa akan tergantung pada tali nylon. Setiap pemburu yang berkelompok mampu memasang ratusan jerat di daerah ‘kekuasaan’ yang dibagi bersama kelompok pemburu lainnya.

Di pegunungan Luwu Utara, Sulawesi Selatan, para kelompok pemburu anoa berbagi kawasan buru di Koru, Rante, Koladu, Tokudi, Tokunyi, Lekke, Rante, dan Denge. Anoa yang diperoleh selain dimakan sendiri juga dijual ke tetangga dan penduduk kampung. Adanya praktek penjualan daging anoa untuk tujuan komersial  ini yang menimbulkan ancaman serius bagi kelestarian anoa karena mendorong peningkatan perburuan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dalih perburuan anoa di pegunungan Luwu Utara terjadi karena ketiadaan protein hewani pengganti anoa perlu dipikirkan lebih lanjut, salah satunya melalui peternakan satwa domestik untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat setempat.

Di Gorontalo, daging anoa di tahun 2016 dihargai Rp. 30.000 per kilogram. Perdagangan daging anoa ini dapat dijumpai di Kecamatan Dengilo, Kabupatuten Pohuwato. Para pemburu umumnya adalah masyarakat lokal yang mencari tambahan penghasilan dengan berburu satwa liar di hutan dekat desa. Selain untuk konsumsi lokal, daging anoa juga didistribusikan ke Manado, pusat perdagangan bushmeat di Sulawesi.

Babirusa dan Babi Hutan

Ada dua jenis babi hutan endemik di Sulawesi, yaitu Babirusa (Babyrousa babyrussa) dan Babi Hutan Sulawesi (Sus celebensis). Babirusa ini terbatas distribusinya di hutan hujan (Clayton, 1996). Babirusa mempunyai densitas yang rendah, mempunyai tingkat kenaikan populasi yang rendah, dan estimasi jumlah populasinya hanya sekitar 5.000 individu saja. Jenis kedua adalah Babi Hutan Sulawesi (Sus celebensis), populasinya relatif melimpah dan lebih tahan terhadap gangguan manusia dan perburuan. Meskipun demikian, di beberapa tempat di Sulawesi telah hilang akibat diburu.

Populasi Babirusa sebagian besar telah punah di bagian Timur Laut semenanjung Utara. Babirusa ini dibawa ke pasar-pasar di Manado dan sekitarnya dari hampir seluruh penjuru Pulau Sulawesi hingga pada tingkat yang mengkhawatirkan (Milner-Gulland and Clayton, 2002; Lee et al, 2005). Clayton et al. (1997) menyatakan bahwa populasi Babirusa di alam di seluruh Sulawesi tidak lebih dari 5.000 ekor. Di Suaka Margasatwa Nantu, Gorontalo dengan luas 32.000 ha, diperkirakan terdapat 500 ekor Babirusa atau dengan kepadatan populasinya berkisar 1.25 animals/km2, namun jumlah ini terus menurun karena tingginya tingkat kerusakan hutan dan perburuan (Clayton 1996). Di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, rata-rata kepadatan populasi Babirusa adalah 7.73 individu per km2 dengan tingkat kepercayaan berkisar antara 4.66 individu sampai 12.81 animals per km2 (Lee et al. 2000).

Saat ini Babirusa masih ditemukan di Nantu, Cagar Alam Panua, Kabupaten Pohuwato, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Kabupaten Bolongo, Gorontalo, dan di Pulau Malenge, Togean.  Perburuan Babirusa dilakukan hingga ke Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Di wilayah pegunungan Luwu Utara, Sulawesi Selatan dapat dijumpai Suku Rampi yang berburu anoa dengan batasan adat. Anoa yang ditangkap akan diolah menjadi daging asap yang mampu bertahan sampai 3 bulan lamanya, cukup menjadi persediaan bagi keluarga mereka. Para pemburu anoa berasal dari Desa Onondowa (sekitar 550 kilometer  dari Makassar). Para pemburu sehari-harinya adalah peladang yang mencari tambahan penghasilan dengan berburu. Meskipun mereka mentargetkan anoa, namun jerat yang mereka pasang juga memerangkap babi hutan. Karena jumlah anoa yang semakin sedikit, para pemburu lebih memilih memasang jerat yang terbuat dari tali nylon sepanjang 2.5 meter. Jerat ini dikaitkan pada batang pohon kecil yang dilengkungkan, salah satu ujungnya dibuat simpul lasso yang ditaruh di atas susunan kayu, dan dibawahnya digali lubang. Ketika anoa menginjak jebakan, kayu akan melenting ke atas dan kaki anoa akan tergantung pada tali nylon. Setiap pemburu yang berkelompok mampu memasang ratusan jerat di daerah ‘kekuasaan’ yang dibagi bersama kelompok pemburu lainnya.

Di pegunungan Luwu Utara, Sulawesi Selatan, para kelompok pemburu anoa berbagi kawasan buru di Koru, Rante, Koladu, Tokudi, Tokunyi, Lekke, Rante, dan Denge. Anoa yang diperoleh selain dimakan sendiri juga dijual ke tetangga dan penduduk kampung. Adanya praktek penjualan daging anoa untuk tujuan komersial  ini yang menimbulkan ancaman serius bagi kelestarian anoa karena mendorong peningkatan perburuan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dalih perburuan anoa di pegunungan Luwu Utara terjadi karena ketiadaan protein hewani pengganti anoa perlu dipikirkan lebih lanjut, salah satunya melalui peternakan satwa domestik untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat setempat.

Di Gorontalo, daging anoa di tahun 2016 dihargai Rp. 30.000 per kilogram. Perdagangan daging anoa ini dapat dijumpai di Kecamatan Dengilo, Kabupatuten Pohuwato. Para pemburu umumnya adalah masyarakat lokal yang mencari tambahan penghasilan dengan berburu satwa liar di hutan dekat desa. Selain untuk konsumsi lokal, daging anoa juga didistribusikan ke Manado, pusat perdagangan bushmeat di Sulawesi.

Monyet Hitam Sulawesi (Yaki)

Monyet Hitam Sulawesi/Yaki (Macaca nigra) adalah satu dari tujuh spesies macaca yang hanya ditemukan di Sulawesi, endemik di bagian timur dari ujung semenanjung Sulawesi bagian utara. Di tahun 2008, IUCN menaikkan status konservasi dari Endangered menjadi Critically Endangered untuk merefleksikan kekuatiran mereka atas penurunan jumlah populasi sampai 90% dalam kurun waktu 30 tahun. Yaki mempunyai sebaran populasi di beberapa titik hutan primer Cagar Alam Tangkoko, Cagar Alam Batuangus, Cagar Alam Dua Saudara, Pulau Bacan, Manembo-nembo, Kota Mobagu, dan Modayak

Menurut Randall Kyes dari University of Washington, jumlah Yaki per square kilometer di Tangkoko naik dari 32.4 di tahun 1999 ke 53.8 di tahun 2005, dan naik lagi menjadi 61.5 di tahun 2015. Namun apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kenaikan tersebut masih jauh di bawah populasi di tahun 1978. Studi di tahun 1978 menunjukkan bahwa 10 group Yaki dan 300 individu ditemukan per square kilometer.  Sebagian besar data yang telah dikumpulkan di dalam dan sekitar Tangkoko dianggap sebagai populasi terakhir yang layak dari M. nigra di wilayah aslinya (Rosenbaum et al., 1998; Melfi, 2010; Palacios et al., 2012; Keyes et al., 2012).

Salah satu faktor utama penurunan populasi Yaki di alam adalah perburuan untuk dimakan. Berdasarkan data dari Macaca Nigra Project (MNP) yang melakukan penelitian di Tangkoko, selama Bulan Januari – November 2015, telah ditemukan 69 jerat untuk burung, ayam-ayaman, dan babi. Jumlah jerat dari tahun 2012 ke 2013 mengalami penurunan dari 181 jerat menjadi 122 jerat. Di tahun 2013, jumlah jerat yang ditemukan meningkat lagi menjadi 139 jerat. Survey pasar di Tomohon dan Langowan menunjukkan bahwa setidaknya ada 3-4 Yaki yang dijual setiap minggunya (35-50 ekor per tahun di Pasar Langowan dan Tomohon).

Tarsius

Tarsius, yang merupakan primata berukuran kecil, tersebar merata di Pulau Sulawesi, kecuali Sulawesi Timur dan daerah Poso. Jenis Tarsius yang ada di Pulau Sulawesi berbeda dengan tarsius di Sumatera, dengan ciri khas yang cukup mencolok adalah bentuk muka dan ukuran badannya. Tarsius merupakan satwa yang aktif di malam hari (nocturnal), dan sering bersuara/melengking dengan frekuensi yang tinggi di waktu matahari terbit atau terbenam. Makanan Tarsius sebagian besar (77%) adalah binatang kecil seperti serangga tanah, dan lipan. Tarsius telah dilindungi oleh Pemerintah Indonesia sejak tahun 1990, dan terdaftar dalam Lampiran Satwa Liar Dilindungi di dalam Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999.

Dari hasil wawancara dengan masyarakat di Togean di tahun 2002, Tarsius dianggap sebagai hama tanaman perkebunan, dimana hal ini tidak sepenuhnya benar. Tarsius yang berada di areal perkebunan diyakini merusak tanaman, padahal Tarsius berada di areal tersebut karena mencari serangga yang biasa hidup di tanaman perkebunan tersebut.

Volume perdagangan Tarsius untuk keperluan komersial masih menjadi tanda tanya hingga saat ini. Sebagai pembanding,  data pemantauan penyelundupan satwa liar yang melalui Pelabuhan Bakauheni di Lampung yang dilakukan oleh WCU antara tahun 2004 – 2010 hanya mendapatkan satu kali pengiriman Tarsius. Tingginya tingkat kematian Tarsius karena faktor stress menjadi perhatian utama para pedagang satwa yang ingin memindahkan satwa ini dari daerah tangkapan ke pasar burung atau kolektor. Tarsius yang disita oleh BKSDA Lampung dari penyelundup yang beroperasi menggunakan bus DAMRI, pada akhirnya mati di tempat penampungan, diduga karena stress di dalam perjalanan dari Sumatera Selatan ke Lampung.

Kelelawar (Paniki)

Praktek-praktek perdagangan satwa liar untuk kebutuhan daging terjadi di negara-negara dengan kemelimpahan kelelawar yang tinggi, ketahanan pangan yang rendah, dan lemahnya peraturan pelestarian satwa liar yang ada. Situasi ini cocok dengan kondisi di Negara-negara Asia Tenggara (Jenkins and Racey, 2008; Scheffers et al., 2012).

Konsumsi kelelawar di Sulawesi Utara, atau lebih dikenal dengan nama paniki,  meningkatkan tekanan perburuan yang meluas sampai di luar wilayah Sulawesi Utara. Dari hasil patroli jalan raya di Sulawesi Utara yang bertujuan untuk memeriksa perdagangan mamalia dilindungi, temuan kelelawar dalam jumlah besar paling sering dijumpai oleh petugas. Kelelawar diangkut dengan truk atau mobil kargo yang mengarah ke Sulawesi Utara (Lee et al, 2005). Kelelawar dari kelompok Pteropodidae tingkat ancamannya lebih signifikan dibandingkan kelompok lainnya, dikarenakan perburuan dalam jumlah besar (Mickleburgh et al., 2002; Schipper et al., 2008).

Perburuan kelelawar menyasar marga Pteropus dan Acerodon (flying foxes) karena ukuran badan yang besar dan hidupnya cenderung berkoloni dalam jumlah besar, sehingga meningkatkan peluang untuk ditangkap (Mickleburgh et al., 2009).

Di tahun 2013, Sheherazade dan Susan M. Tsang melakukan survey konsumsi paniki di delapan pasar utama di dekat Manado. Tujuannya adalah untuk mengukur perilaku atau kebiasan masyarakat Sulawesi Utara terhadap konsumsi paniki, kemudian menemukan formula yang tepat untuk kepentingan kampanye konservasi. Masyarakat lokal setidaknya makan paniki satu kali sebulan, namun frekuensi ini meningkat sepuluh kali lipat sepanjang libur Natal. Setidaknya 500 metrik ton paniki diimpor dari beberapa propinsi diluar Sulawesi Utara, antara lain Sulawesi Selatan menyumbang 38% volume paniki yang dijual. Setidaknya 30-50 kg kelelawar yang setara dengan 45-75 individu dijual setiap harinya. Jumlah ini meningkat menjadi 150-445 individu di Hari Sabtu atau Minggu, dengan harga bervariasi antara Rp. 7500 – 45.000 tergantung ukurannya.

Dengan pendapatan sebesar Rp 50 juta setahun, kelelawar menjadi sumber utama pendapatan vendor (Harison, et al., 2011). Dari hasil survey, masyarakat lokal tidak merasa ada dampak negatif, seperti kecewa atau marah, apabila mereka tidak memakan kelelawar. Memakan kelelawar menjadi hal yang lumrah karena telah tersedia di pasar. Karena telah tersedia dipasar itulah, masyarakat lokal tidak memperhatikan dampak konsumsi kelelawar terhadap kelestarian di habitat aslinya.

Lebih jauh lagi, Sheherazade dan Tsang (2013), solusi yang ditawarkan untuk mengatasi perburuan dan konsumsi paniki di Sulawesi Utara antara lain: (1) melibatkan pihak gereja sebagai saluran penting untuk melakukan pendidikan lingkungan dan pengetatan jatah tangkap atau perdagangan; (2) peraturan resmi yang diberlakukan antar propinsi untuk mengatasi perdagangan lintas batas; (3) mencari pengganti paniki dengan pilihan yang lebih berkelanjutan; (4) melibatkan pelajar di daerah sebagai agen kampanye untuk memastikan kampanye mendapatkan penerimaan yang tinggi dari masyarakat setempat.