Spirit Dari Sebutir Telur

Jauh sebelum IUCN memberikan status rentan untuk burung maleo, Abdul Uno sudah mengingatkan ancaman spesies khas Sulawesi ini yang bisa punah.

IUCN (The International Union for Conservation of Nature atau Uni Internasional untuk Konservasi Alam) memasukkan dalam Daftar Merah (Red List) sebagai rentan (VU) pada 1994. Hal ini yang sudah disampaikan Uno dalam tulisannya 45 tahun sebelumnya, dalam terbitan berbahasa Belanda TECTONA XXXIX.

Pengumpul telur maleo sebagai ancaman keberlanjutan spesies ini kian banyak. Apalagi, ada prosesi adat daerah yang memanfaatkan telur maleo. Spesies ini makin tersingkir di habitatnya di Pulau Sulawesi. Padahal, burung ini tidak ada ditempat lain di dunia. Hanya ada di Pulau Sulawesi dan beberapa pulau-pulau kecil didekat Sulawesi.

Secara umum, ancaman populasi maleo seperti degradasi habitat dan perubahan fungsi lahan, perburuan dengan menggunakan senjata, perangkap dan jerat.

IUCN mengeluarkan kategori baru untuk maleo. Status keterancaman global menjadi genting pada 2002.

Protected Area Specialist Enhancing Protected Area System in Sulawesi (EPASS) Bogani Nani Wartabone, Hanom Bashari, mengatakan, yang harus dilakukan adalah menghentikan total perburuan maleo dewasa dan pengambilan telur, melindungi lokasi peneluran, serta mempertahankan hutan yang tersisa dan terdekat. Kemudian, mempertahankan, melindungi dan memulihkan area koridor.

Menurut Hanom, lanskap maleo dari tengah hutan sampai pantai. Cakupannya lebih luas dari hewan apapun di Sulawesi.

“Maleo adalah satwa payung yang bercitra positif di masyarakat, kharismatik, “sumber pangan”, tidak merusak, tidak dimusuhi. Karena itu, butuh kerja banyak pihak,” ujar Hanom.

Selain di Panua, terdapat lokasi peneluran burung maleo, seperti di dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan sekitarnya. Lokasinya berada di Muara Pusian, Tambun, Hungayono, Pohulongo, Tanjung Binerean, dan Batumanangis. Beberapa titik lokasi peneluran juga terdapat di Sulawesi Tengah di Sigi dan Banggai, Tanjung Matop dan Tolitoli. Sebaran maleo juga terdapat di Pulau Bangka dan Lembeh (Sulawesi Utara), serta di Buton Sulawesi Tenggara.

telor maleo
Telur burung maleo. FOTO: HANOM BASHARI/EPASS

Maleo memiliki sejumlah nama lokal. Ada yang menyebut maleo, sebagaimana nama ilmiah. Maleo sengkawor, sengkawur (Minahasa), tuanggoi (Bolaang Mongondow), Molo di Sulawesi Tengah. Di Gorontalo terdapat 3 nama, bagho (bahasa Suwawa), panua (Gorontalo) dan Suangge (bahasa Bolango di Molibagu, Bolaang Mongondow Selatan).

Para pegiat konservasi di Gorontalo dan Sulawesi Utara, dari organisasi non pemerintah dan pemerintah (seperti Balai Taman Nasional Bogani Nani wartabone) telah menuliskan pedoman lokasi peneluran dan pelepasliaran satwa ini. Pegiat konservasi maleo ini seperti Hanom Bashari, Max Welly Lela, Muslim Kobandaha, Dini Rahmanita, dan Herman Teguh.

Hasil penelitian dan pengalaman para pegiat konservasi maleo, mencatat masa inkubasi telur maleo di lubang peneluran umumnya 60–90 hari. Telur yang menetas tergantung suhu.

Maleo yang baru menetas akan naik ke permukaan tanah dengan kecepatan 0,5–1,0 cm per jam. Jika kedalamam lubang 20 cm, maka mereka akan mencapai permukaan setelah 20–40 jam.

Anak maleo ini tidak membutuhkan banyak perawatan. Setelah menetas, mereka sepenuhnya sudah mandiri dari induk mereka dan sudah dapat terbang.

Telur dalam lubang yang terindikasi sudah menetas, biasanya ditandai dengan permukaan lubang yang terlihat sedikit menurun atau cekung. Biarkan keadaan ini sampai anak maleo dapat keluar sendiri ke permukaan tanah.

Anak maleo ketika keluar dari lubang, akan muncul bagian kepala terlebih dahulu. Dalam kondisi seperti itu, bila di malam hari, akan sangat rawan dengan kemunculan predator seperti tikus. Bahkan semut pun bisa menjadi masalah bagi maleo yang dalam kondisi sebagian tubuhnya masih terkubur.

Predator telur dan anak maleo lainnya di alam, seperti ular, kadal, kucing, babi hutan dan burung. Bila tidak ada predator dan bisa keluar dari lubang, anak maleo akan masuk ke dalam hutan.

Dalam catatan pegiat konservasi, pada 1978, MacKinnon memperkirakan total individu maleo dari 13 lokasi peneluran Sulawesi Utara sebesar 3.000 individu dan memperkirakan 5.000–10.000 untuk seluruh Pulau Sulawesi. Argeloo (1994) memperkirakan populasi maleo khusus di Sulawesi Utara sebesar 335–740 pasang untuk lokasi-lokasi peneluran di pantai, dan diduga sekitar 2.000 pasang untuk lokasi-lokasi peneluran di daratan (inland).

Berdasarkan kajian Buchart & Baker (2000) diperkirakan populasi maleo di Sulawesi Tengah dan Selatan sebesar 1.700–4.300 pasang, dan secara global diperkirakan populasi sebesar 4.000–7.000 pasang.

Khusus di lokasi peneluran Tambun (TN Bogani Nani Wartabone), hasil kajian Dekker (1990a) pada 1985–1986 terdapat 150–200 individu maleo yang berada atau memanfaatkan lokasi peneluran tersebut.

Saat ini, secara global BirdLife International (2017) memperkirakan populasi global maleo sebesar 8.000–14.000 individu dengan kecenderungan populasi yang menurun.

anak maleo
Anak maleo berjuang dari dalam lubang. FOTO: HANOM BASHARI/EPASS

Untuk mempertahankan maleo ini tidak hilang dari Gorontalo dan tempat lain di Sulawesi lembaga internasional, peneliti maleo dan pegiat lingkungan berupaya tidak memberikan perlindungan habitat. Lokasi-lokasi peneluran perlu diselamatkan dengan cara translokasi.

Tanslokasi atau pemindahan satwa adalah pergerakan satwa hidup yang dimediasi oleh manusia dari suatu area/lokasi ke area lain dalam bentuk pelepasliaran. Caranya, dengan memindahkan telur burung maleo, ke tempat yang aman dari serangkan predator dan pencari telur maleo.

Prosedur ini mulai dilakukan Wildlife Conservation Society (WCS dan Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone pada 2001.

Di kawasan ini terdapat sejumlah lokasi tempat bersarang maleo. Program Konservasi Maleo melalui pemantauan dan memindahkan telur-telur maleo di alam ke dalam bak-bak hatchery secara intensif berada di Tambun dan Muara Pusian, dan masih aktif sampai saat ini.

“Tahun 2002 upaya yang sama dilakukan di Hungayono, Gorontalo,” kata Danny Rogy, praktisi maleo di Gorontalo. Selama 2002 hingga 2009, Danny memfasilitasi dan pendampingan untuk memindahkan telur maleo di Hungayono.

Maleo bersarang di daerah pantai berpasir yang terbuka dan hangat, dekat lokasi yang mengandung panas bumi dan sekitar pantai gunung berapi. Telurnya lima kali lebih besar dari telur ayam.

Menurut Hanom, keberhasilan konservasi maleo di Sulawesi dapat menjadi contoh konservasi Megapoda di lokasi lain. Karena itu, melalui program konservasi maleo di Sulawesi perlu dikembangkan sebagai Pusat Informasi Konservasi Megapoda di Indonesia.

Maleo, satwa khas Wallacea dan Australasia, famili Megapodiidae. Maleo adalah genus dan jenis endemik Wallacea, 1 dari 14 Megapoda di Indonesia dan 21 di dunia. Satwa ini termasuk jenis Megapoda terbesar di Wallacea untuk tubuh dan telur.*

Tinggalkan komentar